Wednesday, November 14, 2012

Dae Jang Geum, Jalan Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta

Hai pembaca semua, kali ini saya akan mereview salah satu resto Korea yang ada di kota Yogyakarta. Saya menyempatkan diri ke sana ketika saya mendapat waktu luang beberapa minggu lalu. Dulunya tempat ini adalah restoran korea yang melayani shabu-shabu All You Can Eat bernama Arirang, kira-kira 2-3 tahun lalu tiba-tiba direnovasi dan kembali lagi menjadi restoran korea bernama Dae Jang Geum. Dan sayangnya mereka sudah tidak melayani all you can eat lagi :P

Tempat ini terletak di Jalan Palagan Yogyakarta, bisa dibilang cukup jauh dari pusat kota. Kalau datang dari arah Monjali ( Monumen Jogja Kembali), maka bisa lurus terus sampai menemukan hotel Hyatt, nah belum sampai, masi lurus lagi kira-kira ± 2km nanti di kiri jalan akan ada papan nama Dae Jang Geum, dan sangat jelas dari tampilan resto ini sangat Korea banget.

Saya datang ke tempat ini bersama 2 nenek saya, tentu saja yang mana saya yakin mereka bukan tipe orang yang menyukai rasa yang tidak familiar dengan lidah mereka yang bisa dibilang hanya merasakan masakan Jawa dan Chinese selama ini. Tapi biarlah, karena saya ngebet banget, maka ngikut aja lah mereka. Hihihihi... (cucu yang berkuasa kali ini :P)

Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh ( yang sebenarnya hanya 15-20 menit saja dari pusat kota, :P ) sampailah kita ke tempat ini, sebelomnya saya sudah menelepon untuk memastikan jam operational mereka, yaitu hingga jam 10 malam, last order jam 9.30 malam.

pintu utama Dae Jang Geum
 Sampe di pintu kami disambut oleh beberapa pelayan yang menggunakan hanbok seragam seperti dayang-dayang dapur istana. Tak lupa saya sempatkan ambil beberapa gambar. :D
Mereka memiliki 3 maca tempat makan, yaitu indoor tapi di tempat terbuka, pendopo, dan model private room, ruang kecil-kecil yang berkapasitas 6-15 orang. Dan saya memilih private room model lesehan dengan meja di tengah tapi kaki bisa diluruskan karena tengahnya bolong, jadi model ongkang-ongkang kaki gitu deh, jadi aman untuk nenek saya duduk di sini. :P
Setiap ruangan privatenya memiliki AC sendiri, sehingga dijamin suhu ruangannya cukup oke, nyaman dah pokoknya.

private room
indoor
pendopo
 Nah setelah kami duduk, segera pelayan menyodorkan buku menu, sambil menyajikan beberapa makanan pembuka? Menurut saya si bukan makanan pembuka, tapi pelengkap. :P
Segeralah tersaji kimchi, dan semacam oseng-oseng tauge (saya tidak tau namanya).

kimchi
 Rasa kimchi standar seperti kimchi-kimchi yang pernah saya cicipi sebelumnya, dan tetap saja saya tidak begitu suka makan kimchi. :P

semacam oseng tauge :P
 Nah oseng tauge ini, saya juga tidak mencicipi karena saya tidak tertarik, hehehe, tapi kata nenek saya si rasanya enak, kaya cah tauge, yang jelas yang unik adalah tauge nya, jenis tauge yang berkepala besar.

makgeoli 250cc , ± 18k
 Karena kebanyakan nonton variety show dan drama korea, waktu saya menemukan menu minuman makgeoli ( rice wine ala korea ) saya jadi kepingin mencicipi, soalnya di TV kayanya orang-orang korea sangat menikmati minum makgeoli ini. Ternyata, rasanya seperti air rendeman hasil fermentasi tape. Hehehehe... Tentu saja aroma nya juga tidak jauh beda lah dengan peuyeum yang udah matang banget. Dan ternyata saya tidak terlalu suka, malah ujung-ujungnya dihabiskan oleh nenek saya. :D

lemon tea ±10k

deng sim gui (local) ± 60k
 Deng sim gui ini ternyata adalah potongan daging yang konon adalah potongan bagian has dalam, ada 2 macam di menu mereka, disajikan dengan daging local atau import, karena saya merasa saya bukan expert di bidang perdagingnya, saya pikir lokal saja, toh saya juga ga bisa bedakan ketika matang.
Nah menu ini bisa disajikan mentah dan nanti kita bisa masak-masak sendiri karena akan dibawakan kompor gas portabel dengan pan panggangan di meja kita.

Ternyata, memesan daging local ini, setelah dipanggang dagingnya alooootttttt... alias susah dikunyah, cape deh ngunyahnya. Mau saya panggang sampai mateng banget, atau saya panggang tidak terlalu lama, tetep aja dagingnya keras, jadi tentu saya tidak rekomendasikan pembaca mencoba menu ini dengan daging lokal, apalagi yang bawa nenek-nenek seperti saya. Untuk yang disajikan dengan daging impor saya belom bisa komen. Hehehehe.. Mungkin ada pembaca yang berniat mencoba yang impor kemudian sharing dimari tentang pengalamannya. :D

pelengkap deng sim gui
 Ini pelengkap dari menu deng sim gui, daun selada, timun, dan bawang putih. Jadi makannya kaya di film Korea, daging habis dipanggang taruh di selada kasi bawang putih dan timun, dibungkus trus langsung masukkan mulut dalam satu suapan. :D

samgyetang ± 60k
 Menu ini adalah masakan sup ayam dimasak dengan berbagai bumbu herbal dan beras. Nah saya tidak tau kalau ternyata banyak juga beras di sini yang kalau kita aduk, bisa ditemukan banyak beras yang telah berubah hampir seperti bubur di bagian bawah. Makannya tidak aneh kalau warna kuahnya seperti air bekas cucian beras :P

Tapi menu ini saya rekomendasikan, karena rasanya sangat cocok di lidah saya dan nenek-nenek saya. Rasanya gurih dan sedikit manis loh, bau tanaman herbal yang ditakutkan tidak menyengat, bahkan hampir bisa dikatakan tidak tercium aroma macam obat-obatan atau tanaman-tanaman ginseng yang tadinya saya takutkan.

Menurut nenek saya si ayamnya adalah ayam kampung, bukan ayam broiler, dan 1 porsi menu ini saya merasa saya mendapatkan 1 ekor ayam utuh. Jadi saya rasa untuk harganya pun masi masuk akal untuk mendapatkan menu ini.

Kalau anda pergi hanya dalam rombongan kecil seperti saya dan memesan menu ini, sebaiknya kurangilah porsi nasi yang anda pesan, karena menu ini cukup mengenyangkan.

dak gangjeong ± 30k
 Menu yang satu ini sebenarnya masuk ke dalam kategori appetizer alias makanan pembuka. Tapi karena ini bukan fine dining, dan menurut saya nenek saya pun bahkan tidak terlalu peduli apakah harus appetizer dulu, baru main course lalu dessert ( karena tidak ada kebiasaan ini di rumah saya ). Maka kami makan menu ini bersama dengan pesanan kami lainnya :P
Menu ini enak dan saya suka. Basically potongan ayam fillet yang digoreng tepung dan disajikan dengan sambal yang rasanya manis pedas. Yang membuatnya berbeda adalah rasa tepung yang gurih dan hasil gorengan yang kering, tapi daging ayam di dalamnya masi lembut sekali.



Beberapa foto di bawah ini adalah beberapa aksesoris dan beberapa sudut tempat ini yang berhasil saya abadikan. :D
gayageum

another gayageum



kumpulan gentong
 Nah kumpulan gentong ini menarik perhatian saya, karena saya sering sekali menonton film Korea yang memiliki tema masak-masak, maka saya sering melihat bahwa orang Korea selalu menyimpan bahan makanan mereka kedalam gentong-gentong ini, termasuk kimchi, red pepper paste, dll.
Saya kira tempat ini pun masi mempertahankan tradisinya, maka iseng-iseng saya membuka gentong ini dan ternyata eng ing engggg....


Kosong....!!! Tampaknya gentong-gentong ini hanya untuk hiasan semata. :P
Tampaknya mereka sudah agak modern juga, jadi tidak menyimpan bumbu-bumbu di gentong.

Pelayanan di sini cukup oke, dari dalam ruangan private yang saya tempati ada bell untuk memanggil pelayan jika diperlukan, begitu pencet, tak lama kemudian pelayan datang, mereka juga sopan, terbiasa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum membuka pintu ( tidak asal nyelonong masuk ).

Well, overall saya suka suasananya, tenang, tidak berisik, pelayanan bagus, harga masuk akal, rasa makanannya pun oke, hanya ada 1 menu yang saya pesan yang mengecewakan. Suasana korea dirasakan pengunjung, bahkan pengunjung bisa menyewa hanbok untuk berfoto-foto di sana dengan membayar 15k. :D

Pelayanan : 8.5 / 10
Rasa : 8 / 10
Suasana : 8.5 / 10


Dae Jang Geum Resto
Jalan Palagan Tentara Pelajar KM 8,5 Sariharjo, Yogyakarta

Senin-Minggu 10:00 am-11:00 pm (last order).
Telp 0274 4530682